ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Ikatan batin antara ibu dan anak memang sangat kuat. Saat anaknya tengah
dalam bahaya atau mengalami masalah, seorang ibu biasanya merasakan firasat dalam
dirinya. Ternyata, hal sebaliknya juga terjadi, bahkan sejak dalam kandungan.
Penelitian terbaru menunjukkan
foto yang membuktikan teori stres pada ibu hamil. Saat ibu hamil mengalami
stres, bayinya akan mengalami kecemasan serupa. Hal ini ditunjukkan dengan
janin yang cenderung menyentuh wajahnya, seperti seorang dewasa memegang kepala
ketika stres.
Teori ini sudah ada sejak dulu,
namun bukti nyata baru ditunjukkan dalam foto yang diambil dengan mesin scanner
4D. Ditunjukkan bagaimana janin yang masih ada dalam kandungan itu menyentuh
mulut dan keningnya seperti seseorang yang sedang cemas dan gelisah.
Dr. Reissland mengatakan bahwa
semakin ibu merasakan stres, janinnya cenderung mengusap bagian alis. Hal ini
sebagai reaksi hormon stres yang dihasilkan oleh sang ibu. Kecemasan pada ibu
juga tampak ketika janjin mulai menggunakan tangan kiri untuk menyentuh
wajahnya. Perhatikan bagaimana ekspresi bibirnya!
Menakjubkan!
"Bagi sebagian ibu hamil
tidak perlu khawatir akan hal ini, namun beberapa ibu hamil lainnya yang mudah
stres perlu memikirkan cara untuk meredakan stress yang mereka alami,"
kata Dr. Reissland.
Ikatan batin antara ibu dan
anak memang sudah terjadi sejak dalam kandungan. Stay happy and healthy, Mom.
You're one of the most wonderful woman on earth.
Berikut adalah beberapa bahaya
stres yang tidak dikelola dengan baik untuk kesehatan ibu dan janin.
·
Berpengaruh terhadap otak janin. Stres kronis berkontribusi
terhadap adanya kelainan proses pembentukan otak janin yang dapat memicu
masalah perilaku pada kelanjutan pertumbuhan bayi. Namun, masih
diperlukan penelitian yang lebih dalam untuk mengonfirmasi hal ini.
·
Berdampak kepada tumbuh kembang bayi. Beberapa data menunjukkan
bahwa pemicu stres kronis pada ibu hamil yang tidak diiringi dengan kemampuan
manajemen stres yang baik dikaitkan dengan kelahiran bayi dengan berat badan
rendah atau lahir prematur. Hal ini disebabkan menurunnya aliran darah ke rahim
yang dapat secara signifikan memengaruhi tumbuh kembang janin.
·
Kelahiran prematur. Stres juga dapat memengaruhi plasenta ibu
hamil. Ketika ibu hamil mengalami stres, terutama pada trimester pertama,
plasenta meningkatkan produksi hormon pelepas kortikotropin (CRH). Hormon ini
bertugas mengatur durasi kehamilan. Kadar hormon tersebut yang lebih tinggi
dari seharusnya dapat mempercepat durasi kehamilan, sehingga bayi berisiko
lahir prematur.
·
Berkurangnya pasokan oksigen untuk janin. Ketika ibu hamil
merasakan kecemasan, tubuhnya akan memproduksi hormon stres yang bisa berdampak
kepada janin, yaitu epinephrine dan norepinephrine yang berefek mengencangkan
pembuluh darah dan mengurangi suplai oksigen ke rahim.
Sebenarnya merupakan hal yang
normal bila seorang ibu hamil mengalami stres. Namun, jangan biarkan stres
menjadi berkepanjangan dan menjadi makin parah.
